Diposkan pada Opini

Gara-gara Al-Fatih, Aku Belajar

ATTENTION: Konten mengandung unsur tokoh agama, mohon tidak salah paham, konten tidak bertujuan menyinggung, suwer.

nkcthi
instagram.com/nkcthi

Assalamualaikum, teman-teman! Mungkin orang-orang nggak peduli kali ya sama keproduktifanku nulis. Blog ini memang terkesan sekali jarang diisi. Sebenarnya bukan karena males sih, tapi lebih ke prinsip yang kupegang dalam ngejalanin blog ini. Ea. Sebenarnya kalau mau dibuat jadi konsepnya cerita pribadi aja, paling udah sering aja ngepost. Tapi… berhubung konsepnya itu sharing jadi aku lebih memilah-milih nih, informasi apakah yang kira-kira dampaknya lumayan buat orang. Sebab… nggak semua daily lifeku berfaedah.

Jadi, sekarang aku mau membahas tentang cara belajar menghargai orang lain karena ada suatu kejadian yang sempat hangat untuk kushare hampir ke semua teman-teman dekatku yang kupunya. Beberapa waktu lalu, aku berkesempatan dapat teguran dari Allah lewat salah seorang teman. Apakah teman atau kenalan? terserah saja.

Aku dan temanku ini sering jalan bareng dan bertukar pendapat tentang hal-hal yang agak  lebih deep dari biasanya. Hampir setiap dia ngajak jalan, aku iyakan karena aku merasa dengan jalan sama dia dan mengobrol (atau lebih pasnya, menyimak) sama dia, itu akan membuka tambahan wawasan buat aku.

Setelah intensitas pertemuan yang cukup sering dalam beberapa bulan itu, tibalah di saat di mana dia dan aku nggak ketemuan dan lost contact sekitar satu minggu karena dia ada job di luar kota.

Sepulangnya dari sana, di suatu malam minggu akhirnya dia ngajak aku makan. Sebenarnya aku sudah makan, tapi karena aku lebih ingin mendengar cerita dia selama dia liputan di luar kota itu, aku iyakan. Sebelumnya, moodku masih biasa-biasa saja. Tapi setelah dia menjemput dan nginceng dari jendela luar (karena baterai hapenya habis) aku jadi bad mood.

Karena bad mood di awal itulah, akhirnya aku bad mood berkepanjangan. Merasa malas ngomong dan tidak nyaman. Yang rasanya pengen diam saja, tapi kebacut jalan bareng dan kami lama tak jumpa, rasanya jahat kalau aku diam saja.

Aku tahu dia anaknya peka banget. Dia pasti paham aku lagi bad mood, karena bad mood aku jadi nyolot. Aku nyolot dia juga iseng. Pembicaraan malam itu terasa hampa dan rawan cek-cok. Akhirnya setelah makan tanpa basa-basi dia langsung mengantar aku pulang.

Di perjalanan pulang, dia masih try to open conversation karena aku masih diam saja. Dia bilang begini, “Jadi, Yor, di (sebuah kabupaten di Jogja) ada sebuah komunitas yang namanya (lalala), pendirinya itu ada tiga orang (dia sebutkan nama-namanya). Beliau itu Yor, diutus pemerintah untuk membangun peradaban,”

“Oh ya? visi misi mereka apa?”

Alih-alih menjawab, dia tanya begini ke aku, yang pelupa masalah pelajaran sekolah, “Kamu tahu Muhammad Al-Fatih, kan?”

Aku langsung mikir, tapi karena aku tahu kalau aku mikir bakalan ditunggu-tunggu, akhirnya aku jawab, “Hah? siapa? enggak,”

“Muhammad Al-Fatih, kamu gak tahu Muhammad Al-Fatih?”

“Enggak,”

“Beneran kamu nggak tahu Muhammad Al-Fatih??”

“Dia siapa?” waktu itu aku malah mikirnya Muhammad Al-Fatih itu temen-temennya Taqy Malik, Muzzamil, dan sejenisnya gitu. Sungguh wadaw sekali wawasanku ini, ya Allah.

Akhirnya dia ganti pertanyaannya menjadi, “Kamu tahu Konstantinopel?”

Zonk… ini apaaa lagi. Cuman pengen tahu visi misi tiga utusan pemerintah itu tadi malah terjebak cerdas cermat PAI dadakan… “Ya, ada lah pokoknya di Sejarah Kebudayaan Islam,” salah satu mata pelajaran di MTsNku dulu.

Dia pun mungkin putus asa dan akhirnya diam.

“Emang kenapa? kalau aku nggak tahu, dosa po?” tanyaku.

“Ya nggak dosa, cuman kamu melewatkan satu hal yang PENTING!”

wadaaaw

“Penting? Penting buat siapa?” memang terkesan nyolot sekali kamu, Yori!

“Penting buat semua orang,” waadaaw

“Semua orang? semua orang siapa?” syukurlah aku nggak diturunin di jalan saat itu juga.

Dia pun terdiam lagi. Lumayan lama sampai akhirnya masuk ke jalan kosku dia diamnya. “Kamu bete, po?”

“IYA,” wadaaw

“Ya maaf, aku nggak tahu…” mulai sadar diri.

“Bukan salahmu, kok!” lalu ganti aku yang terdiam. Setelah keheningan beberapa saat dan jarak kosku yang semakin dekat, dia pun berucap, “tujuan hidupmu itu apa, Yor? cita-cita kamu hidup itu buat apa, Yor?” wadaaw.

Bayangkan, wahai sodara-sodara… sebab saya tidak tahu Muhammad Al-Fatih, seketika tujuan hidup saya diragukan wkwkwk.

Jujur, seketika itu saya langsung merasa semakin bete. Emosi yang langsung mengambil alih pikiran saya. Kok bisanya sih cuman gara-gara aku nggak tahu Muhammad Al-Fatih, tujuan hidupku langsung dipertanyakan? terkesannya seperti, “ooh kamu tidak tahu Muhammad Al-Fatih, hidup kamu auto tidak sukses!. iiih… sebel banget.

Tapi setelah itu aku tersadar. Oh, jadi begini ya perasaan teman-teman yang kalau ngomong sama aku, mentang-mentang aku tahu dan dia enggak, aku langsung bereaksi lebay kaya gitu. Sakit ya. Gak enak ya. Aku jadi seperti disadarkan Allah lewat si Al-Fatih ini bahwasanya (bahwasanyaa…siapp…) kita tetap harus menghargai orang lain. Wawasan setiap orang itu berbeda, penting tidaknya suatu hal juga relatif bagi setiap orang. Di satu sisi aku sebal merasa direndahkan oleh dia, tapi di sisi lain aku jadi sadar bahwa aku pun sering tanpa sadar tidak sengaja membuat orang lain tersinggung karena ucapanku.

Itu sih, yang mau aku bagi ke kalian. Dan juga, apa yang kamu tanam itulah yang kamu tuai. Aku pun nggak bisa merasa menjadi orang yang paling tersinggung dalam konteks itu. Sebab kalau dirunut dari awal, memang akunya yang bawaannya nyolot mulu. Nggak heran kalau akhirnya dia ikutan bete dan kita sama-sama nggak bisa ngontrol emosi sehingga ucapan-ucapan nada tinggi dan pilihan-pilihan kata yang nggak pas itu bisa keluar dan akhirnya membuat kita saling tersakiti. Jadi bener-bener kembali ke pepatah, belajarlah menghargai sebelum minta dihargai.

TUH KAN YORII, MAKANYA KALAU BETE ITU DIEM AJA. wkwk.

Note: boleh loh yang belum tahu Muhammad Al-Fatih, kepoin sejarahnya beliau, supaya kalian nggak melewatkan hal ‘penting’ seperti aku. Wkwk.

Iklan
Diposkan pada Tak Berkategori

Bersilaturahmi dengan Mantan Pacar, Boleh Gak Sih?

Assalamualaikum teman-teman!

Jadi gini, entah aku udah bilang atau belum di blog ini kalau sekarang aku udah sendiri lagi, kayanya sih udah.

Jadi aku mau cerita aja lah ya. Kalau menurut kamu ini cringe ya udah gak usah dibaca daripada benci terus dihujat rame-rame dalam forum, karena tujuan aku cerita di sini lebih ke arah aku pengen berbagi pengalaman dan semoga bisa kalian ambil hikmahnya. Bisa dijadiin pelajaran gitu lho.

Sekarang ini aku officialy berusia 19 tahun, karena 20 Juni kemaren udah aku lewatin dengan selamat dan jomblo. Iya.

Jadi tuh kan, kalau di google photos biasanya ada notif gitu kan apa yang terjadi di tanggal itu tahun kemarin, nah, pas tanggal 20 Juni 2018 kemarin munculah notif foto-foto ultahku tahun 2017, ya waktu itu ngerayainnya sama anak-anak Sahabat Fisabilillah, nenek, sepupu, dan juga doi di Banyuwangi.

Tapi sekarang gak gitu. Ultah tahun ini tuh udah gak exciting lagi karena udah tua juga kali ya, jadi lebih biasa aja gitu ngerayainnya. Lebih ke “wah udah 19 nih, alhamdulillah masih dikasih umur, udah 19 nih, jatah hidup makin berkurang nih”.  Oh ya. Tahun kemaren aku ulang tahun gak sama orangtua, tahun ini ulang tahun gak sama Ayah. Susah banget bisa lengkap, heran.

Jadi di sini aku mau cerita aja semuanya masalah asmoro ini hahaha. Sebenarnya aku diputusin, iya, di-pu-tu-sin, udah lumayan lama, dari sekitaran setahun kemaren. Lupa sih tepatnya kapan, pokoknya tuh sekitar 2 bulan LDR. Sekitar bulan Ber Ber Ber, entah September, Oktober. Tapi… butuh waktu lama gitu deh buat aku bisa biasa aja, berhenti nangis, sampai akhirnya bisa ngeup cerita ini ke sini. Lama banget. Bener-bener ini luka paling serius sepanjang riwayatku di dunia perpacaran ini. HAHAHIKS.

Jadi aku diputusin setelah setahunan, dan di saat LDR, which is itu mangkelnya luar biasa. Kayak “gila wasting time banget, terus setahun ini buat apa coba, amsyong”. HAHA. Di situ kondisinya aku bener-bener nggak bisa nerima. Jengkel parah. Sakit parah. Soalnya posisi aku bener-bener gak punya siapa-siapa kan di Jogja. Udah orang tua jauh, nenek jauh, temen-temen deket belum ada, diputusin pula, waah… gini banget.

Ya udah lah tuh, nangis? itu tuh udah rutinitas tiap malem sebelum tidur, wkwkwk. Kalian kalau suka ceng-cengin orang patah hati, ngejudge alay lah, lebay lah, fix jahat sih. HAHA enggak-enggak. Kalau bercanda gapapa. Tapi setelah aku ngerasain sendiri, jadi sadar gitu loh kalau masalah kaya gitu tuh gak sesepele itu buat jadi bahan bercandaan. Posisinya orang lagi bersedih, eh dibecandain, diketawain, ya sama aja gitu kaya ketawa di atas penderitaan orang lain.

Tapi setelah putus, kami masih yang kaya biasa, sering chat, sering telfon, vidcall karena posisinya aku jomblo, dia jomblo. Dulu tuh suka mancing-mancing, lagi deket sama cewek gak nih, dia bilang, intinya, dia trauma pacaran, dia mau fokus kuliah aja dulu. Ya udah lah, lega kan. Masih bisa deket kaya pacaran dulu.

Tapi ya sering berantem juga karena aku yang masih belum terima diputusin, masih suka ngungkit-ngungkit kenapa aku diputusin. Eventhough, aku ngerti aku diputusin ya karena aku posesifnya naudzubillah, dasar cewek.

Iya aku merasa semua itu kesalahanku, kelakuanku juga, tingkah polahku yang emang bikin jengah. Dulu aku posesif parah dan itu pertama kalinya seumur hidup aku baru tahu ternyata aku bisa posesif. Karena apa? karena dulu aku pindahan, orangtua jauh, sahabat-sahabat temen main gak ada. Bener-bener cuman di Banyuwangi tuh kehidupanku kuhabisin sama Nenekku dan dia. Beda kalau aku pacarannya di Teweh, which is aku punya banyak temen main, aku punya keluarga, jadi aku punya banyak tempat buat aku menghabiskan waktu. Jadi, mau pacarku main kek, ngapain kek ya terserah, soalnya kan aku punya orang lain di Teweh.

Jadi kaya ketergantungan gitu lo sama dia. Belum apa-apa udah ditawarin kenyamanan dari dia kan, karena aku mikir waktuku gak lama nih di Banyuwangi, wah, ada nih yang mau jadi temen deketku, yang mau mencoba kenal aku lebih dekat di saat temen-temen lain udah punya temen deketnya masing-masing, di saat temen-temen yang lain nggak ngerti nih aku ngomong apa.

Ya jadi, jadianlah, dan dunia serasa cuman ada dia. Gak bagus sih, sumpah gak bagus. Karena ketergantungan dan pikiran jangka pendek itulah aku (dan juga dia) jadi kurang relasi waktu SMA. Karena ya itu, every day we spend together. Gila sih.

Pernah jadi orang terdekatnya tuh gila sumpah nyaman banget. Disayang, dimanja, dibaik-baikin, udah bener-bener kaya dirawat kaya adek kesayangan banget. Beda banget kalau aku sama temen-temen cowok di Teweh, kaya sama Dicky, Alwy, Akmal, aku yang harus bener-bener mandiri gitu lo. Sayang banget lah pokoknya dulu tuh. Sayang dalam konotasi positif sekaligus negatif.

Nah, waktu lulus SMA nih, berjuang buat masuk PTN pun bareng gitu. Bimbelnya sama, sekelas pula. Sampai gak sedikit yang ngira kami tuh adek kakak. Nggak cuman temen-temen bimbel SBM, tapi juga bahkan sampai temen-temen kuliahku, ngiranya kami berdua kakak adek. Mirip katanya. Kelamaan bareng paling.

Aku ngerti banget tuh perjuangannya dia buat masuk FE (Fakultas Ekonomi) dari jamannya undangan sampai mandiri. Gila parah perjuangannya tuh.. Sementara aku, sekali coba, SBM lulus. Padahal kita bimbelnya bareng, sekelas, pas tes SBM satu lokasi pula, dan yang lolos cuman aku, gila sih parah, aku ngerti banget perasaannya dia. Nggak adil banget gitu kan, kayak effort dia lebih gede, jauh lebih gede dari aku, kok malah aku gitu lo yang dengan mudahnya dapet hasil.

Nah, waktu aku tahu aku bakalan kuliah di Jogja, aku udah wanti-wanti, udah janji nih sama diri sendiri, “besok kalau dia udah keterima di PTN, aku putusin,”. Karena dia kan udah nemenin masa-masa susahku selama jadi murid pindahan tuh, nah aku juga maunya nemenin dia sampai dia diterima di PTN. Kan kalau udah kuliah, udah jauh tuh, udah susah juga kan. Apalagi dia punya riwayat LDR sebelum sama aku dan, gagal. Iya,

jadi tuh, dia pacaran 2 kali. Yang pertama tuh dia LDR, Jakarta-Banyuwangi, 8 bulan. Eh, begitu ketemu aku, deket tuh. Ya deketnya masih biasa, dulu aku tuh bersyukurnya karena dia nih agak-agak mirip auranya sama temen-temenku di Teweh. Terus dia putus. Kaget dong aku, kudengerin lah curhatnya. Katanya masalah komunikasi dari berbulan-bulan. Lah jadindeket. Lah ditembak. Lah akunya bego, Lah diterima. Lah jadian. Lah sayang. Jadi putus dulu baru jadian sama aku. Karma buat aku berarti ini ya.

Nah, karena riwayat itu kan, takut dong. Makanya aku udah niatan gitu. Eh nggak taunya, begitu balik dari Jogja habis daftar ulang, Nenekku tiba-tiba ngomong gini, “besok kalau udah di Jogja, udah gak usah cari cowok lain. Udah sama dia aja. Putus cinta itu nggak enak..” MAK DEG! anjaaay… Nenekku udah berkata-kata nih. Apalagi nenekku ngomong gitu berasa ngefeel banget soalnya nenekku ditinggal meninggal sama kakek. Ya udah jadinya, goyah nih niatan mau mutusin. Akhirnya sampai setahun kan, itu sekitar beberapa hari sebelum aku pindah ke Jogja. Aku tawarin dulu kan ke dia, “kita mau LDR nih, gimana? mau dilanjut apa udah aja?” dan dia tuh jawabnya gini, “dilanjutlah, nanti kalau aku ada masalah di kampus, aku ceritanya ke siapa?” sumpah aku inget banget kata-katanya. Mungkin kalau kamu baca ya bisa diinget-inget dulu kamu ngomong gini say.

Ya udah deh gak jadi tuh putus. Lanjut LDR, baru dua bulan apa ya, udah tuh, mulai, gak ada kabar, dihubungin susah, dia pulang Banyuwangi gak ngomong, diputusin.

🙂

..

..

..

Terus udah lama tuh, pas libur semester satu aku balik Banyuwangi masih main sama dia, masih kaya dulu waktu pacaran. Dia juga masih suka main ke rumah Nenek kalau libur. Terus, baru-baru ini apa ya, semester dua sekitaran april 2018. Berantem lagi tuh di chat, sebel tuh dia sama aku. Udah sejak saat itu udah gak pernah chat tuh kita. Akunya pun sadar diri lah udah bikin jengkel berkali-kali udahlah, gak usah ngehubungin lagi, toh tiap berkomunikasi ujung-ujungnya berantem. Eeeh, kok temenku ada yang nanya, “ini to pacar barunya dia?” sambil nunjukin story Whatsappnya dia. Loh? kok di aku nggak ada story itu. Wah dihide nih. Aku chat lah dia, klarifikasi kan, tabayyun, ceilah tabayyun. Awalnya gak ngaku tuh. Terus akhirnya jujur, ngehide takutnya salah paham. Ngakunya sih cuman temen. Okelah, aku masih berpegangan sama kata-katanya dia, yang atas tadi, scroll up dah coba. Dia bilang dia trauma pacaran. Oke.

Nah gak taunya, kapan ya, beberapa hari. Beranilah dia upload foto berdua sama cewe yang sama. Dan baru-baru ini sekitar sebulan yang lalu, barulah dia jujur, kalau dia udah pacaran sama cewek itu.

🙂

..

..

Kira-kira omongan mana yang masih bisa kupegang?

Bener-bener, udah tuh, waah, susah dah ni. Sakit sih, kok bisa sih beda gitu. Tapi, ya sakit, hikmahnya tuh, apa ya, dia udah kaya semacam pembuktian dari Allah untuk Surah Al-Insyirah ayat 8, Waila rabbika farghab, dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.

Wah, terus ada yang netijen yang bergumam, “halah pas putus aja bawa-bawa Allah,”

Putusnya udah lama, sakitnya lama banget. Terus dia kan tipe orang yang kombinasi sih. Tipe orang yang akan berusaha baik ke siapa pun, tipe kalau ada masalah dikit dipikirin banget, tapi, yang ini penilaianku aja sih, tipe ya biarpun ngerti bikin gak enak, ya udah lakuin aja. Dah itu dimix jadi satu jadilah dia.

Di satu sisi dia sayang sama pacar barunya, di sisi lain dia gak enak sama aku. HAHA Ya Allah.

Karena aku ngerti dia tuh gampang stres, aku mencoba memudahkan gitu lo, dia bilang sama aku, mau memperbaikin hubungan dia sama aku dan beberapa masalah lain. Aku mau nyoba bantu nih, paling nggak memudahkan dia buat memperbaiki hubungannya sama aku lah. Tapi, kalau dia bikin story WA, upload screenshot chat-chatan, background chatnya foto dia sampai doinya, terus kapan hari upload foto doinya, wagilasih. Itu dia minta maaf tapi tetep ngasih makan lukaku itu mah. Sampai aku suatu hari kepikiran, pas lebaran nih. Abis dia mohon maaf lahir batin tuh, aku nanya lah ke Ibuku, “Kalau kita silaturahmi sama mantan, karena mantan mau berusaha memperbaiki hubungan, itu masuknya kita memudahkan urusan sesama muslim gak sih?”

Iya kan? kepikiran gak sih?

Akhirnya nyarilah di youtube kan, ketemulah videonya Ust. Hanan Attaki, ustad idola nih. Ada tuh bahas masalah itu. Di video itu dianjurin baaanget buat berbuat baik, memaafkan sesama muslim dengan contoh kisah Nabi Yusuf dengan kakak-kakaknya. Ada kisah orang yang dosanya banyak banget tapi amal baiknya gak ada tapi bisa masuk surga karena dia gampang maafin orang lain. Kalau kita gampang maafin orang lain, Allah juga gampang maafin kita. Rasulullah bersabda: “Tidak akan sempurna iman seseorang sampai dia menyambung silaturahim kepada orang yang memutuskannya dan memberi kepada orang yang tidak pernah mau memberi untuknya dan dia berbuat baik kepada orang yang sudah menyakitinya dan memaafkan orang yang menghinanya”.

Apakah kita harus tetap menyambung silaturahim dengan mantan?

Perlu gak?

Ust. Hanan bilang, “gak perlu…

“Karena walaupun niat kita pengen silaturahim, tapi niat baik kita itu ditunggangi oleh setan. Dia ingin memunculkan fitnah lagi di kehidupan kita”

Akhirnya, setelah menonton video itu sampai habis, udah it’s enough for us. Apalagi dia kan juga udah punya pasangan. Kalau dilanjutkan kan ya di sisi sini aku ya tetep sakit, dan aku gak mau pasangannya juga ngerasain sakit.

Sekian.

Jadi intinya aku cuman mau nyampein, kalau emang kalian sayang sama seseorang, ditahan aja. Jadiin temen. Kalau emang bener-bener fix, baru lamar. Karena apa? karena sayang banget, meskipun orang itu baik, orang itu baik banget, orang itu baik banget sama orangtua kita, sama keluarga kita, sama nenek kita, tapi karena udah jadi mantan, buat sakit hati, bahkan gak perlu silaturahim, kan sayang banget kan? harus kehilangan sosok sebaik itu. Iya, aku juga eman banget. Tapi ya, kalau sama orangtuanya, keluarganya, komunikasi jangan sampai putus meskipun mungkin sama anaknya putus.

Dan aku jadi nyadar gitu kalau aku tuh berpotensi posesif, harus dirubah. Wajib. Banyak hal yang harus dibenahi dari internalku sendiri karena semua tingkahku pula yang punya andil paling besar yang bikin aku akhirnya sakit sendiri.

Pokoknya sekarang banyakin temen, banyakin relasi, itung-itung buat nambah kemungkinan berjodoh wkwk. Banyak-banyak istigfar, banyak banget yang harus direpair dari diri ini. Supaya nanti kalau udah waktunya berpasangan lagi bisa langgeng, bisa bikin pasangan bener-bener nyaman dekat maupun jauh. Eaa. Penting banget. Penting banget. Penting banget.

Oke, kayanya udah cukup, terima kasih sudah mau baca.

🙂

Assalamualaikum.

Oh iya ingat, Wa ila rabbika farghab.

 

Diposkan pada Review

#YoReview: Film Another Trip to The Moon

Assalamualaikum teman-teman!
Malam ini adalah malam minggu, jadi aku memutuskan untuk mengisi malam mingguku dengan menonton film. Jadi, kali ini aku mau mengulas sebuah film yang baru saja aku tonton. Film ini berjudul Another Trip To The Moon yang dirilis di tahun 2015. Aku tertarik dengan film ini karena poster filmnya yang unik. Film ini sepertinya dibuat khusus untuk mengikuti kompetisi film karena aku belum pernah dengar tentang film ini. Biasanya kan film untuk komersil akan dipromosikan gencar-gencaran.
Di poster film ini tersemat tulisan ‘Hivos Tiger Awards Competition International Film Festival Rotterdam 2015’ dan ‘Official Selection Moscow International Film Festival 2015’. CoverDengan Tara Basro dan Ratu Anandita sebagai pemeran utamanya.

Sebelumnya aku akan mengulas berdasarkan apa yang kulihat selama 1 jam 20 menit itu ya. Di awal, film ini menunjukkan sepasang perempuan primitif yang tinggal dan hidup sederhana di dalam hutan. Pakaian mereka sangat sederhana seperti yang sering digambarkan di film-film sejarah purba. Mereka hidup sangat-sangat menyatu dengan alam. Mereka berdua bertahan hidup dengan berburu. Berburu kelinci di hutan dan juga ikan di sungai. Mandi pun mereka di sungai. Peralatan berburu yang mereka gunakan benar-benar primitif. Mereka menggunakan panah dan tombak yang sangat sederhana. Tombak yang diasah sampai lincip dengan batu pipih tajam. Lalu mereka memasak daging hasil buruan mereka dengan cara dibakar. Di malam harinya mereka akan kembali tidur di dalam tempat yang cocok disebut sarang. Kedua perempuan ini hidup saling bekerja sama dan tidak pernah berbicara sama sekali. Mereka hanya bersenandung sesekali di malam hari. Di suatu ketika juga diperlihatkan sesosok manusia berkepala (aku mengiranya itu babi)  yangkita sebut saja Manusia Babi, yang memperhatikan kedua perempuan ini saat mereka berjalan di dalam hutan.

Di belahan dunia yang lain, diperlihatkan seorang ibu-ibu tua dengan pakaian adat yang selalu menggumamkan semacam mantra di hadapan kemenyan atau apalah itu. Sebut saja dia “dukun”. Anehnya ibu itu melakukan ritual itu di halaman rumah modern. Beliau juga tidur di halaman rumah beralaskan tikar.

Kembali ke hutan. Di suatu malam, terjadi hujan disertai gemuruh petir yang menggelegar. Membuat perempuan yang berambut panjang terbangun dan gelisah. Perempuan berambut pendek pun ikut terbangun dan berusaha menenangkan temannya itu. Di pagi harinya, saat mereka tengah berjalan di dalam hutan, tiba-tiba saja perempuan berambut pendek yang berjalan di belakang perempuan berambut panjang disambar petir dan meninggal seketika!

Sampai detik ini, kedua perempuan itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Di saat perempuan berambut panjang menggali lubang untuk mengubur jenazah temannya, temannya yang dibaringkan di tengah hutan itu dihampiri oleh hewan-hewan bertubuh manusia, seperti Manusia Babi, Manusia Anjing, dan siluman-siluman lainnya. Aku pikir mereka akan memakan jenazah itu, ternyata tidak.
Siluman-siluman itu segera pergi ketika Perempuan Berambut Panjang kembali. Ia membawa sejumlah bunga-bunga hutan dan batok kelapa. Aneh! Perempuan Berambut Panjang itu memberdirikan jenazah temannya sampai berdiri tegap. Lalu memutarinya sambil memukul-mukul batok kelapa itu. Anehnya lagi, Perempuan Berambut Pendek yang harusnya sudah mati itu berjalan tertatih-tatih menuju liang kuburnya!
Meskipun sepanjang film ini tanpa dialog dan tidak menampilkan ekspresi wajah yang kuat, cukup dapat dipahami bahwa Perempuan Berambut Panjang itu merasa terpukul atas kematian temannya. Di saat ia merasa terpukul itulah, Manusia Babi menunjukkan diri di hadapan Perempuan Berambut Panjang yang langsung mengejarnya. Aneh! Saat Perempuan Berambut Panjang itu memanah si Manusia Babi, ia tiba-tiba mendapat luka tusuk di bagian pinggang. Saat ia mengejar Manusia Babi, ternyata Manusia Babi itu juga terluka akibat panah yang menancap di pinggangnya. Perempuan Berambut Panjang berniat menggorok leher Manusia Babi, tapi lehernya ikut berdarah. Ganjil.

Setelah itu, Manusia Babi jadi sering bersama Perempuan Berambut Panjang. Di suatu saat, Manusia Babi mencabut ranting pohon penanda kuburan Perempuan Rambut Pendek. Perempuan Rambut Panjang seketika marah dan mengejar Manusia Babi yang ternyata membawanya ke tempat kuburan temannya itu. DAN SEMAKIN ANEH. Mayat Perempuan Rambut Pendek melayang di atas kuburannya, lalu naik ke langit lalu menghilang dibawa UFO. WHAT??

Manusia Babi lalu menggiring Perempuan Rambut Panjang berjalan hingga keluar hutan. Melewati sawah-sawah, dan anehnya di pinggir jalan itu ada bangunan yang terbuat dari semen. Tapi ada yang lebih aneh lagi!! Mereka berjalan hingga tiba di SPBU! Mereka masuk BUS PARIWISATA!! Hingga tibalah mereka di sebuah rumah tempat Ibu-ibu tua itu. Si Manusia Babi berubah menjadi manusia. Mereka pun menjadi suami istri hingga memiliki anak. Tapi saat anak mereka sudah tumbuh sekitar usia SD, masih tanpa bicara, Perempuan Rambut Panjang itu memutuskan untuk kembali ke hutan asalnya. Di hutan, Perempuan Rambut Pendek yang harusnya hilang dibawa UFO malah menyambutnya dengan bahagia!

Anaknya yang entah bagaimana bisa berada di hutan tanpa Ibu dan Ayah di sampingnya, akhirnya berjalan kembali sendirian.

Tamat.

Film ini benar-benar disampaikan tanpa dialog sama sekali. Aku baru benar-benar mengerti setelah baca sinopsisnya di Wikipedia. Ternyata film ini memang jalan ceritanya surealis yang mana memuat unsur fiksi ilmiah seperti UFO –sumpah ini random banget asli-, berpadu dengan kehidupan suku primitif tapi ada elemen kehidupan normal seperti TV, SPBU, dan bus. Jadi menurut sutradara film ini, Ismail Basbeth, penonton bisa bebas menerjemahkan jalan cerita sesuai dengan imajinasi mereka.
So, menurutku Manusia Babi –yang ternyata aslinya disebut Manusia Anjing— memang disiapkan untuk menemani Perempuan Rambut Panjang –yang ternyata namanya Asa— setelah temannya meninggal. Menurutku film ini itu menyampaikan pesan bahwa sejauh apa pun kita pergi atau berubah, kita akan kembali ke tempat asal atau hal yang membuat diri kita nyaman. Iya begitu.

Aku baru tahu kalau ibu-ibu tua itu ternyata ibunya Asa. Iya begitu.

Filmnya unik dan sukses membuatku terheran-heran. Tapi filmnya menarik karena tidak ada dialog, sudut pengambilan gambar (camera angel) yang mostly adalah normal shot, audio yang sepenuhnya story supporting berupa foley sound effect dan ambience membuat visual dan audionya nyaman sekali untuk dinikmati.

Film yang sangat unik dan menarik!

Diposkan pada Opini

O(P)INI #2: Teman Tapi Menikah, Bikin Marah

Assalamualaikum!

Baru keluar dari bioskop nih! Aku baru aja selesai nonton film Teman Tapi Menikah. Film yang memang dari lama aku tunggu-tunggu. Kali ini aku mau menceritakan opini jujurku setelah menonton film ini. Untuk kalian yang belum nonton film ini aku peringatkan karena konten ini mengandung spoiler content.

Hasil gambar untuk teman tapi menikah
Sumber: Sinopsisfilm.co.id

Mungkin film ini ingin memberi kita pelajaran bahwa jodoh itu sebenarnya ada di sekitar kita. Kita harus peka sama orang di sekitar kita. Kita bisa saja mencari jodoh sampai ke mana-mana jauhnya dan ternyata jodoh kita itu dekat. Di sini adalah sahabat sendiri. Film ini menceritakan bagaimana perjuangannya Ditto memendam perasaan sukanya terhadap cinta pertama sekaligus sahabatnya sendiri, Ayu selama kurang lebih 12 tahun!

Tapi, aku jadi kurang respect dengan hebatnya kisah cinta mereka 12 tahun berteman yang akhirnya menikah. Kenapa aku jadi kurang respect?

Awalnya di awal-awal tahu kisah mereka, aku senang sama mereka (dan sekarang tetap akan senang) karena anak mereka, Sekala, yang lucu dan anak idaman banget. Lama-lama aku mulai tertarik ngikutin cerita mereka.

#TemanTapiMenikah. Dengan label “teman” tetapi menikah, kisah cinta mereka ini sungguh awalnya menarik sekali. Seolah membuka harapan untuk orang-orang yang berteman agar kelak bisa ikut (beruntung) bisa menikah. Tapi…

Jelas saja bisa. Jelas. Jeeelaaas. *Aku mangkel banget ih!

Berteman dari awal masuk SMP. Satu  sekolah. Satu kelas. Satu bangku. Satu ekskul. Ke mana-mana berdua. Sering saling mengunjungi satu sama lain. Ibunya Ayu sudah kenal baik sama Ditto, begitu sebaliknya. SMA pun mereka masih satu sekolah. Bahkan Ditto bela-belain melakukan hal gila dengan pindah jurusan dari IPA ke IPS demi tetap dekat sama Ayu. Tapi anehnya, hubungan persahabatan ini menurutku, di budayaku, aneh. Mulai dari scene Ayu berdua di ruang TV sama Ditto, Ayu telentang di depan Ditto. Ayu putus dari pacarnya, ditenangkan Ditto dengan cara Ayu bersandar di bahu Ditto dan Ditto mengelus-elus kepalanya. Ayu putus lagi, Ayu nangis, Ditto memeluk Ayu untuk maksud menenangkannya.

Wah Ditto so sweet banget siiihh! Kyaaa! Kyaaa! Mau dong yang kaya Ditto!

Tahan dulu. Hiks. Miris. Betapa banyaknya kontak fisik yang tidak wajar untuk terjadi antara seorang perempuan dengan seorang laki-laki apalagi di sini konteksnya adalah “sahabat”. Ya di sini aku juga bersahabat sama laki-laki tapi salaman pun, salaman pun, hari raya saja tidak. Mereka baru bersahabat, lalu apa yang terjadi kalau pacaran? geli. Entah karena kebudayaan kita yang berbeda. Bagaimana dengan kamu?

Ini bagian sakitnya.

Selama SMP sampai SMA, Ditto sengaja pacaran bergonta-ganti pasangan. Begitu pula Ayu. Pas SMP, Ditto pacaran sama cewek-cewek lain karena nggak mau cewek-cewek itu membuat Ayu terganggu dengan seringnya curhat tentang Ditto ke Ayu.

Memang jelas tidak mungkin kalau seorang perempuan dan seorang laki-laki bisa pure “bersahabat” kalau intensitas komunikasinya sesering itu, sedekat itu, dan hanya berdua. Ya mungkin kalau ceweknya satu, cowoknya empat, mungkin bisa agak murni. Kalau aku ya seperti itu.

Mungkin di lain orang satu cewek ini juga diam-diam suka pada salah satu cowok itu.  Ya pokoknya perempuan dan laki-laki bisa sahabat murni bersahabat asalkan berbanyak, tidak sepasang dan tidak seintim itu lah. Itu pendapatku, bagaimana pendapatmu?

Sebenarnya hubungan persahabatan satu orang cewek dan satu orang cowok ini benar-benar menyebalkan. Sangat mengganggu. Ya bener mereka pacaran dengan orang lain, tapi fokus mereka tetap ke, Ditto ke Ayu, Ayu ke Ditto. Ya wajar kalau pasangan mereka masing-masing merasa muak.

Ya maksudnya, buat apalah kalian pacaran kalau ada lawan jenis yang posisinya jauh lebih tinggi dari pacar? Buat apa?

Yang bikin sakit hati lagi adalah, di saat Ditto memutuskan untuk mendekati cewek bernama Dila saat dia kuliah di Bandung dan pisah kota dengan Ayu. Di situ Ditto sendiri yang memutuskan untuk mendekati Dila sampai akhirnya menjalin hubungan selama 4 tahun! EMPAT TAHUN! E-M-P-A-T T-A-H-U-N bayangin! Menjalin hubungan empat tahun, itu sudah seperti dari awal kuliah sampai hampir mau lulus. Kamu pacaran sama si D dan di waktu yang bersamaan pikiran kamu itu sebenarnya terfokus ke si A.

Selama berpacaran dengan perempuan lain, Ditto akan tetap selalu memprioritaskan Ayu. Ayu yang selalu jadi orang pertama yang ia bonceng di vespa barunya, yang pertama kali dia ajak jalan dengan mobil barunya.

“Pacar itu di sini,” ujar Ditto memposisikan tangannya setinggi dada. “Sahabat itu di sini,” posisi tangannya naik setinggi mata. WAW. WAW. WAAAW. Iya kalau posisi sahabatmu itu sesama jenismu gak masalah. Anggap saja itu adalah rasa persahabatan yang teramat sangat solid. Tapi ini sahabat lawan jenis dan cuman satu. HAAALOOO. Bukannya Ayu pemain sinetron? Kenapa Ayu sendiri gak curiga? Heran 😦

Di saat 4 tahun pacaran, sebentar lagi lulus. Akhirnya Dila memberi kode untuk rencananya ingin menikah. Tapi Ditto tidak merespon. Dia diam. Dia tidak menjawab karena bayangan pernikahannya bukanlah dengan Dila. “Gue sayang sama Dila, sayang banget. Tapi untuk hidup selamanya sama dia, gue gak punya bayangan,” ujar Ditto menelepon Ayu.

-_____________- enyahlah tipikal-tipikal makhluk seperti ini di muka bumi.

Sumpah perlu kesabaran dan ketabahan seIndonesia Raya sekali untuk pacaran sama Ditto ataupun Ayu ini. Sakit banget.

Kalau kamu sejak awal jatuh cinta sama A, lalu buat apa kamu pacaran dengan D selama bertahun-tahun? Kalau kamu tidak punya bayangan menikah sama D buat apa kamu pacaran bertahun-tahun sama D? HALOO ES POTONGNYA DUA RIBUAN MAS BRO -____-

Akhirnya Dila memutus Ditto setelah menahan sabar dan mengaku sudah tidak mampu lagi mengusahakan diri untuk menjadi yang nomor satu di hati Ditto. Sebab Dila sadar, sekeras apapun dia berusaha dia memang tidak akan pernah bisa menggantikan posisinya Ayu yang sudah terpatri di hatinya Ditto. Sakit banget. I know what you feel, Mbak Dil.

Ditto putus dari Dila. Sementara Ayu datang ke Ditto mengumumkan bahwa Rifnu, pacarnya selama kurang lebih juga 4 tahun itu akhirnya melamarnya!

Ditto putus dari Dila. Ayu dilamar Rifnu. Ditto jujur ke Ayu kalau dia sudah memendam rasa sayang ke Ayu selama 12 tahun. Ditto dan Ayu menikah.

WAW

WAW

WAW

Sekali lagi

WAW

Rencana Allah maha unik. Salut sih. Mungkin yang mau disorot di sini adalah betapa kuatnya Ditto menahan perasaan sayangnya pada sahabatnya sendiri selama 12 tahun. Menunggu Ayu bergonta-ganti pacar sampai akhirnya berhasil menikahi Ayu, cinta pertama dan sahabatnya sendiri.

Tapi di sini, yang aku sorot adalah bagaimana perasaannya, sakitnya ada di posisi Dila dan Rifnu?? MBOK TULUNG TT.TT

Intinya hikmah yang bisa diambil dari kisah Teman Tapi Menikah ini adalah, kalau kamu suka sama sahabatmu, JUJUR. Kalau dirasa dengan jujur di umur yang belum tepat, kamu bisa menunggu dengan pure menunggu. Aku salut sama Ditto yang menunggu 12 tahun lamanya sampai bisa menikahi Ayu. Tapi yang sangat amat aku sayangkan adalah selama masa tunggu itulah Ditto main-main dengan orang lain… yang paling sakit ini ya jadi Dila dan Rifnu… empat tahun pacaran, sia-sia…

Maka dari itu, jangan pacaran kalau nggak serius. Di kamu gak papa. Di doi yang sakit. Bahagia iya Teman Tapi Menikah, tapi miris kalau mengorbankan orang lain yang harus menelan rasa sakit sendiri.

*hela nafas amat sangat panjang*

Diposkan pada Opini

O(p)ini #1: Kuliah PGPAUD Kurang Literasi?

Assalamualaikum!

Akhirnya aku berhasil nethering laptop ini ke hp setelah sekian lama can’t connect *hurey*

Di dini hari Jum’at ini aku mau mengawali awal yang baru dari blog ini awal yang baru aja terus tapi tar ujung-ujungnya ngilang lagi, hm dengan beropini.

Oh ya mulai kali ini aku ingin terus aja ngomong aku ingin yor, terus, tapi tar ngilang lagi ngilang lagi, hm menata dan menjadwalkan aku untuk rutin nulis di blog ini. Aamiin. Kuatkan tekat dan kuotaku ya Allah. Jadi anggap saja ini adalah edisi pertama dari O(p)ini (baca: O ini dari kata Opini). Ya. Mari kita rumitkan hal yang sederhana ini teman-teman.

Di edisi pertama kali ini, aku mau membahas tentang keresahanku terhadap realitas yang terjadi di lingkunganku. Ya. Di jurusanku, Pendidikan Guru PAUD.

Seperti kita, atau mungkin hanya aku, maka sini, aku beri tahu kalian, jadi jurusanku ini dihuni oleh mayoritas mahasiswi. Ya. Ya ya. Mahasiswi. 99% perempuan. Aku merasakan beberapa keresahan selama menjalani 2 semester kuliah di jurusan ini. Salah satunya akan kita bahas di sini.

Sebagai jurusan dengan komposisi perempuan dan laki-laki yang sangat tidak seimbang, aku merasa cukup kehilangan peran mahasiswa laki-laki dalam dunia perkuliahan. Di kelasku, kami semua berjumlah 40 orang dan semua perempuan. Silahkan dibayangkan.

Sebenarnya tidak ada yang terlalu buruk dengan isi kelas yang perempuan semua ini. Kami bisa beradaptasi dengan baik. 99,9% perempuan di kelas ini baik-baik saja. Cuman, yang aku sayangkan adalah kami pasif sekali. Pasif di sini dalam artian saat perkuliahan berlangsung.

Aku merasa di beberapa mata kuliah umum yang sedikit berat seperti Ilmu Alamiah Dasar, Sosio-Antropologi Pendidikan, Pancasila, dan Epistemologi dan Logika Pendidikan, kami benar-benar pasif. Seperti kita (yang seorang mahasiswa atau sudah pernah kuliah) tahu, mata kuliah-mata kuliah itu adalah mata kuliah yang seharusnya dipelajari dengan tukar pendapat, tanya jawab, diskusi, atau mungkin debat. Tapi, ya begitu. “Ada yang ingin berpendapat?” *sunyi* “Ada yang ingin menanggapi?” *hening* “Ada yang ingin SBM lagi tahun depan?” *senyum-senyum telunjuknya naik dikit*

Begini, menurut sependek pengamatanku, di dalam beberapa forum yang pernah aku ikuti seperti forum diskusi di fakultas, kebanyakan orang yang beradu argumen, berdiskusi, itu adalah laki-laki. Meskipun di dalam forum itu didominasi perempuan, tapi yang berargumen biasanya laki-laki.

Dan di kelasku, orang-orangnya perempuan semua. Ya… memang sih, kalau sudah masuk kuliah-kuliah matkul jurusan seperti Pengembangan Motorik Anak Usia Dini dan Pengembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini rasa-rasanya aku sangat menolak keberadaan laki-laki di sana karena mata kuliah itu benar-benar “ibu-ibu” banget. Tapi aku merasa otakku yang receh ini perlu dinutrisi oleh diskusi-diskusi tentang ilmu-ilmu seputar diskusi atau debat politik, sosial, budaya, ekonomi dan lain sebagainya yang mana itu adalah topik yang biasanya “bapak-bapak” banget.

Ya, aku tahu pemikiran seperti barusan itu sebenarnya jelek banget, karena sebenarnya materi yang “ibu-ibu” atau “bapak-bapak” banget itu adalah materi yang umum. Konsumsi publik yang siapa saja berhak membicarakan. Tapi ya gitu.

Kamu berharap anak PGPAUD ngumpul-ngumpul gitu, terus ngobrolin UU MD3, ngobrolin Kartu Kuning Jokowi, ngobrolin isu MCA, gitu? hoo tidak. Tidak tahu di yang lain, tapi di kelasku tidak. Kenapa tidak? Ya mungkin bisa jadi penyebabnya karena kami kurang membaca. Kamu tahu yang kami bicarakan? “Itu lipstik merk apa? nomor berapa?”, “eh wingi yo lur aku weroh mas nganu”, eh apa ya yang kami obrolkan? ya yang kami obrolkan itu ringan-ringanlah. Ya kalau aku sih bukan lagi ringan, biasanya cenderung receh dan aneh sejenis “eh deloken nang youtube, ‘viii tazz’, ‘poo ppy’

Semenjak masuk ke BEM FIP, jujur pikiranku semakin terbuka. Aku teramat bersyukur bisa masuk ke lingkungan ini. Di mana aku bisa mendapatkan kestabilan relasi dengan keberagaman jurusan, departemen, dan keheterogenan gender (maksudku ada laki-lakinya) yang membuatku semakin sadar, “Ya! Ya! YA! Aku perlu perbanyak membaca!”

Karena setiap ngumpul ke sekre, ketemu sama mbak, mas, dan teman-teman yang sering kali membaca buku, atau nonton video debat di youtube lewat PC sekre, aku jadi termotivasi untuk mengupdate wawasanku.

Kalau dipikir-pikir, aku ngerasa kok aku jauh banget sama mereka? kok mereka bahas itu aku gak tau? kok mereka ngomongin isu ini aku gak pernah denger? malu. Makanya pelan-pelan aku mulai mengonsumsi berita-berita lewat twitteryoutube, memperbanyak baca buku-buku tentang anak dari perpus. Iya aku tahu aku kuliah PGPAUD yang kata orang “halah jadi guru TK cuman keplok-keplok nyanyi-nyanyi kok kuliah jauh-jauh”. Orang menganggap kami sepele karena hanya akan berhadapan sama anak kecil.

Tapi aku gak mau pemikiran orang yang menyepelekan jurusan kami memengaruhi pemikiranku sendiri sampai membuatku males buat update diri hingga akhirnya ya udah, kuliah-pulang kuliah-pulang. Aku ingin, kita sebagai calon pendidik anak usia dini masa depan sadar, kita perlu wawasan luas buat mendidik anak-anak, adek-adek kita. Kita perlu peka sama lingkungan sekitar kita. Kita perlu pengetahuan umum tentang dunia luar agar bisa memberikan pemahaman yang tepat pada anak-anak atau adik-adik atau keponakan-keponakan kita. Ya minimal kita bisa kasih penjelasan kapan saat yang tepat bermain tik-tok, jangan bermain tik-tok saat anggota keluarga kita meninggal. Tidak etis. Tapi karena salah didikan anak tik-tok itu bangga viewsnya tembus 1jt. Miris. Karena apa itu dia bisa berbuat kaya gitu dan bangga? Ya karena dia gak dapat didikan yang tepat dari orang yang lebih dewasa, ya mungkin bisa jadi dulu waktu TK dia cuman diajarin keplok-keplok nyanyi-nyanyi.

Aku tahu aku gak akan bisa berharap dapat asupan debat atau diskusi dari kakak-kakak tingkat jurusanku tapi kita bisa cari asupan itu sendiri dari berbagai media, dari organisasi-organisasi di luar. Kita perlu menumbuhkan kesadaran literasi sendiri dari dalam diri kita. Wawasan kita luas manfaatnya bukan cuman buat diri kita sendiri, tapi juga bermanfaat buat generasi-generasi yang akan kita didik nanti teman. Ayo berubah! Henshin!

Lovvlovv,

Alyoriek

 

(apresiasi, kritik ataupun saran yang membangun silahkan taruh di kolom komentar di bawah, terima kasih)

Diposkan pada Opini

Yowis Ben, ora nganggo D

Assalamualaikum teman-teman!

Hasil gambar untuk yowis ben band
blogunik.com

Kemaren aku baru aja nobar sebuah film dari Starvision,  Yowis Ben. Tanggal 24 kemaren kebetulan giliran Jogja yang dikunjungi para pemain film itu. Sebagai orang Jawa Timur yang tahu Bayu Skak, aku memang sudah niat mau nonton film yang mengambil latar belakang kota Malang dan 80% dialognya berbahasa Jawa itu.

Awalnya iseng ngajak Ayu nonton. Jadi di woro-woro internet, meet n’ greet akan diadain jam 3 sore di atrium Jogja City Mall, dan jam 4 sorenya nobar. Tapi di jadwal filmnya itu adanya 14:35 atau 16:40, dan dari pihak bioskopnya juga gak memberi kepastian, nobarnya di jam yang keberapa. Akhirnya Ayu pesan tiket yang 16:40, row B seat 1 2 theater 1.

Sekitar jam 15.20an, rombongan Yowis Ben ini baru sampai. Kami berdua cuma menyaksikan dari lantai atas karena massa di depan panggungnya banyak banget. Mayoritas anak sekolah. Dari atas kurang terlihat sih –jelas lah—. Dari atas aku cuma mengamati, “oh jadi kalau tour film itu begini ya,” yang on cuman Mas Bayu, Joshua, Bang Didu, dan satu orang lagi entah siapa. Sementara pemain yang lain mung lingguh hore-hore. Memang harus pemain utamanya saja ya yang gerak? Agak canggung sih lihatnya, pas Mas Bayu, Joshua, sama entah siapa lagi aku gak tahu namanya, mereka ngeband, pemain lain mung lingguh. Kono loncat-loncat nganti kesel seng kono mung lingguh wkwkwk. Setelah bagi-bagi hadiah, –it’s totally  bagi-bagi karena merchandise e mung diuncalne ngono tok— mereka menghibur massa yang ada dengan beberapa lagu yang aku baru tahu. Setelah segala macamnya beres, para massa diminta teriak mengikuti instruksi Mas Bayu. Semacam kembali ke zaman PKKMB.

Setelah mencium ambu-ambu mereka akan naik, kami bergegas ke bioskop untuk mengantisipasi kericuhan. Jam 16.09 kami sudah lesehan di depan studio 1. Beberapa anak SMP seliweran dengan kaos Yowis Ben. Gak lama beberapa orang merapat ke studio seberang kami, kalo gak salah studio 3. Entah ada siapa yang jelas ada beberapa orang yang sepertinya pasukan pengaman artis. Lalu dari studio itu muncul seorang cowok berkaos Yowis Ben yang dilapis jas hitam, sepertinya dia pemain, dia ke  kamar mandi, lewat di depan kami, lalu kembali ke studio tadi tanpa ada yang ngajak foto. Hm, sedih juga, wkwkwk. Padahal dia bagian rombongan pemain film itu wkwkwk.

Sebelum akhirnya kami masuk, sempat beberapa crew bolak balik masuk setiap studio. Awalnya lengang, lama-kelamaan semua sudut penuh sesak oleh massa yang menunggu di depan pintu studio 1. Bersama-sama kami berdiri dan melakukan hal yang sama –mengecek jam di hp setiap saat—. 16:35… 16:36… 16:38… “2 menit lagi,” semua orang mempersiapkan kuda-kuda. 16:40… tatapan mata fokus ke pintu. Begitu celah terbuka, masuk! 16:41… mulai gelisah 16:43… “wes punjul iki,” massa mulai bersuara. 16:45… pintu studio 1 terbuka dan… “Gini, spesial ini aku yang nyobek tiketnya langsung, tapi syaratnya jangan difoto ya nanti kelamaan, divideo saja, nanti kalian screenshot sendiri,” instruksi Mas Bayu. Hoah. Dengan sigap, Ayu mencengkeram tanganku, menarikku keluar dari kerumunan massa, menyodorkan tiketnya ke Mas Bayu dengan tangan kiri sigap merekam.

Astagfirullah rasanya ndredeg banget… takut aku. Begitu masuk kami berdua bingung karena digreetings banyak orang berkaos Yowis Ben, saking aku takutnya mereka kuacuhkan dan segera berlari menuju kursiku di atas sana. Hiii sumpah aku takut banget wkwkwk. Jadi begitu to rasanya, serem-serem piyee  ngono.

Mas Bay sempet ngomong-ngomong sebentar sebelum akhirnya mereka pamit untuk menyapa massa lain di studio lain. Film pun dimulai. Adegan pertama langsung bikin ngakak.

Secara keseluruhan film ini bagus. Lucu. Aku pun bisa menangkap pesan-pesan moral yang terselip dalam film itu, sekalipun, iya, mungkin yang akan diingat dari film ini adalah kata-kata misuhnya. Kalau aku amati, di film ini itu mengajarkan kita untuk, (1) mengucapkan salam yang benar, Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh, bukan mlekum, (2) selalu ingat untuk cium tangan orang tua, (3) toleransi antar umat beragama, (4) mudunke gengsi ben ra isin nolongi ibumu, (5) ojo mbolos pelajaran –minimal nek arep mbolos ki diniati ojo setengah-setengah—, (6) kudu iso tanggung jawab karo pilihanmu dewe, (7) kudu ngerti carane memperjuangkan orang seng iso nerima awakmu opo anane, seng barengi amu sak durunge amu populer/jangan kacang lupa kulitnya, dan (8) ojo kakehan ngombe kuah mi bene ra o’on.

Sebenarnya jujur, cerita film ini menurutku B aja. Tapi komedinya pecah banget gilaaa. Mungkin kalau kalian –yang belum nonton— berasumsi “ah ikut-ikutan suckseed!,” gak bisa ditampik memang, karena Suckseed juga tentang band dan sudah lebih dulu tayang jadi terkesan ngikut-ngikut, yaa memang ada sedikit kemiripan, karena sebenarnya di dunia ini tidak ada hal yang benar-benar baru, apapun itu, yang ada hanya modifikasi. Gak cuma film Indonesia kok yang punya kemiripan dengan film luar, film negara lain dengan negara yang lain pun juga ada, jadi gak perlu dibesar-besarkan. Selain itu di beberapa adegan di film ini sepertinya juga mengangkat tema yang sama dengan film “I’m not Stupid Too”. Film ini mengklaim genre drama komedi tapi menurutku dramanya kurang tapi komedinya “PAS” banget.

Filmnya bagus banget. Gak ada unsur negatif kaya berantem begitu gak ada. Jelas banget kalau Mas Bay ini punya tujuan untuk memberikan contoh positif untuk para penonton. Kita dikasih lihat caranya sopan sama orang tua, caranya berbakti sama orang tua, caranya bersikap yang baik ke teman. Ya mungkin sepanjang film dihiasi pisuhan lejen khas anak Malang dan Surabaya, yaaa mohon yang ditiru bukan itunya, tapi pesan-pesan kebaikan dari Mas Baynya yaa. Biasanya orang Indonesia begitu sih, yang ditiru yang jelek-jeleknya, ya semoga tujuannya Mas Bay bikin film ini –yang katany bekerjasama sama Kemendikbud— bisa membawa kita, khususnya itu tadi penontonnya yang mayoritas anak sekolah itu meniru hal-hal yang baik dalam film, aamiin.

Dan oh ya, sekalipun aku ngerti bahasa Malang tapi tetap saja sekali-kali baca subtitle wkwkwk. Dan kalau katanya Mas Bay film ini sebagai pembuktian kalau film berbahasa daerah bisa bersaing sama film nasional, yaa bagus. Alhamdulillahnya film ini ditayangkan di hampir semua daerah di Indonesia termasuk di Kalimantan dan Sumatera, mungkin di Sulawesi, Papua, dan daerah lain juga. Sebab sebenarnya ada film yang sejenis dengan Yowis Ben ini, judulnya Silarian, yang main Bisma Karisma dan ternyata filmnya cuman tayang di Medan.

Semoga saja dengan adanya film berbahasa daerah ini gak memicu hal yang tidak diinginkan, semoga suku A dengan suka B, C, D, sampai Z tetap dalam kesatuan, gak menimbulkan apa-apa ya. Mungkin Ian Kasela bisa kolaborasi sama Olla Ramlan untuk bikin film berbahasa Banjar, Kalimantan Selatan. Menarik.

Sekian.

Diposkan pada Tak Berkategori

Tim #KuliahGakKayaSMA

Assalamualaikum teman-teman! ^^

Jadi sekarang ini sudah akhir Januari 2018, aku udah kembali ke Jogja setelah menghabiskan 16 hari di Banyuwangi. Udah banyak cerita yang ingin aku ceritain di sini senumpuk baju kotor yang terbawa dari perjalanan balik dari Banyuwangi. Oke sip.

Aku mau sharing-sharing juga kalo waktu masih minggu-minggu UAS, informasi open recruitmen BEM FIP UNY 2018 tersiar sampe ke aku. WOAH! Ngejreng langsung kan tuh. Sebab kemaren rencana aku mau daftar hima (himpunan mahasiswa jurusan) tercoret dari list karena satu dan lain hal, makanya kesempatan untuk berkontribusi lewat BEM fakultas ini gak bakal tak sia-siain.

Jadi awal Januari aku bulatkan niat dan tekad untuk ngisi formulir dan wawancara. Sekalian sharing ya soal oprec BEM FIP UNY 2018 itu gimana. Siapa tahu kan yang baca ini tuh ada adek tingkat yang ingin daftar BEM entah di fakultas atau univ apa, kurang lebih mungkin bisa dijadikan gambaran.

Seperti pada oprec kebanyakan, pertama ngisi formulir. Isinya seputar biodata, gambaran diri singkat, kelebihan, kekurangan, riwayat pendidikan, pandangan tentang BEM FIP UNY, saran untuk BEM FIP, kenapa mau gabung di BEM, apa kontribusi yang mau dikasih kalau diterima jadi BEM, seputar itu. Waktu itu aku milih dua opsi, staf kominfo atau gak biro keskretariatan. Kenapa milih itu? Karena ini nih. Karena blog ini, karena kebiasaan ngetik ini nih, karena kesukaanku cerita lewat tulisan ini nih. Aku milih kominfo –komunikasi dan informasi— karena aku ingin berkontribusi buat menyebarkan informasi tentang FIP UNY lewat blog. Soalnya apa? Kalau cari informasi tentang FIP UNY di Google itu gak ada blognya UNY.

Akhirnya dengan pemikiran di atas, aku mantapkan niat menempuh 7,7 km dari Kampus Bantul ke Kampus Pusat untuk melakukan wawancara hari  Selasa tanggal 9 Januari. Jadi yang pertama di depan kita presensi dulu, meja presensi dijaga oleh Mas Wisnu dan Mas Hanif, ketua BEM FIP UNY 2018. Kemudian masuk, dipasangkan dengan Mbak Lintang, aku memulai wawancara. Sama Mbak Lintang aku diminta menceritakan seputar diriku secara personal, ditanya-tanya yang berhubungan sama sikap kita dalam sebuah tim, kelebihan kekurangan, seputar itu. Enjoy. Ya kenapa? Karena Mbaknya baik, meskipun dua tahun di atasku, mbaknya memberikan aura yang positif, ramah, hangat, gak menciutkan sama sekali.

Setelah dirasa cukup, Mbak Lintang pun mengoper aku ke mas-mas di meja belakang yang mana aku baru tahu namanya Mas Yudhi setelah poster koordinator BEM FIP UNY 2018 rilis di instagram. Dengan Mas Yudhi, aku dimintai pendapat seputar BEM FIP UNY, seputar pendidikan di Indonesia, isu pemuda, sampai isu politik. Ya Lord… aku bingung ditanyain politik karena apa? Karena aku kalau gak sengaja kepencet Tv One sama Metro gak pernah ngepoin politik. Makanya akhirnya sekarang aku instal Twitter biar wawasanku gak seputar warmindo—takoyaki—nasi padang.

Setelah dirasa cukup aku dipersilahkan pulang. Pulang…pulang…pulang ke Banyuwangi. Tanggal 10 aku langsung pulang ke Banyuwangi menumpang Bis Mila yang berangkat jam 6 magrib. Aku memutuskan pulang lebih cepat dari rencana awal yang maunya tanggal 15 Januari karena tanggal 10 siang UASku sudah beres semua, dan kalau mau tunggu tanggal 15 biar bisa KRS kan juga harus bayar ke bank dulu, sedangkan bayar ke bank dan krs masih sampai 25 Januari. Berhubung juga tanggal 12nya ada sosialisasi kampus, aku akhirnya memutuskan pulang lebih awal dan terasa agak dadakan.

Kurang lebih jam 6 magrib berangkat dari Terminal Giwangan, dengan membayar 106 ribu rupiah, aku sampai di Terminal Jajag, Banyuwangi sekitar jam 6.45 pagi. Sampai Banyuwangi disusul Akbar dan dia ngantar sampai rumah. Hujan deras.

Sesampainya di rumah, Utiku yang tinggal sendiri memang sedang pergi rekreasi bersama teman-temannya, jadi Akbar langsung pulang dan aku beberes. Istirahat sebentar, mulailah aku nyalain laptop milik sepupuku yang memang sudah kubooking sejak beberapa hari sebelumnya untuk bikin PPT materi presentasi pas sosialisasi kampus besok. Kenapa bikin? Kenapa gak download? Dan itu aku gak ngerti kenapa UNY gak nyediain PPT untuk promosi kampus di Google sedangkan UNS punya. Tapi… baru mau mulai, listrik tiba-tiba mati dan WAW -_- sinyal axis ikut mati, hilang, lenyap. Akhirnya karena gak tahu mau apa aku pergi ke rumah Akbar untuk nebeng bikin PPT. Gak lama aku di sana, Bayu datang menyusul. Setelah menghabiskan beberapa jam ngumpul di sana, Isa telfon. Urusan persiapan sosialisasi besok. Cus, kami bertiga pergi ke rumah Isa. Dari rumah Isa kami nyusul teman-teman lain ke SMA. Memang hari itu SMAku lagi acara puncak Dies Natalis tapi hujan deras membersamai acara mereka sampai sore.

Setelah reda, kami ke depan mushola untuk cek lokasi. Becek. Panitia bingung, Akbar ketua panitianya lebih bingung. Sampai subuh mereka mempersiapkan semua yang dibutuhkan untuk acara itu. Bisa dibilang dari sore sampai pagi mereka begadang. *SAYANG WAKTU BIKIN PANITIA SOSIALISASI KAMPUS ITU GAK BUKA OPREC YA kalo oprec kan aku bisa daftar, bisa ikut bantu penuh. Hm.

Besoknya acara berlangsung, pada akhirnya aku gak jadi presentasi karena yang dari UNY aku sendiri sedangkan yang dari univ lain paling minimal berdua. Bahkan yang dari UNEJ rombongan, karena apa? Karena alumni SMA itu yang masuk UNY cuman aku. Hm.

Selesai acara, aku ikut beberes. Rasanya itu seneng. Gara-gara oprec FIP EXHIBITION dari BEM FIP tahun itu, untuk pertama kalinya aku berkontribusi dalam sebuah acara. Memang gak selalu suka, banyak dukanya, tapi rasanya di hati itu seneng, puas, nyaman nikmatin proses dari pra acara, acara, sampai pasca acara. Repot iya repot tapi puas. Prosesnya itu, capek bareng-bareng, kalau acaranya sukses puasnya berlipat. Alhamdulillah. Kadang muncul pikiran “kok gak dari dulu…” karena apa? Karena dari dulu Ibu gak ngizinin aku ikut osis, organisasi-organisasi yang sekiranya menguras banyak waktu yang sampai mengorbankan waktu bareng keluarga tuh gak usah. Makanya aku mencoba mencari hal-hal itu sekarang, waktu kuliah, waktu kos, waktu aku gak punya keluarga di kota ini, hal-hal yang dulu gak pernah bisa aku rasakan karena aku harus banyak waktu sama keluarga.

Dan dengan adanya sistem open recruitment ini menurutku adalah bentuk dari demokratisnya dunia kuliah. Di mana mau ngadain acara-acara apa itu oprec gak main tunjuk yang membuat peluang orang lain yang ingin mencoba jadi tertutup.

Makanya aku memberanikan diri untuk daftar BEM. Oh iya, selama 48 jam, aku gugup mantengin Whatsapp. Mantau instagram, mantau story mbak BEM… 48 jam harusnya rasa penasaran itu terpenuhi. Tapi ternyata tidak. 48 jam itu harus lebih setengah hari! Gila itu nunggu dan berharapnya dua tingkat di bawah nunggu pengumuman SBMPTN. H3h3. Akhirnya story WA itu muncul. Link itu menyembul ke permukaan. Aku deg-degan, kuklik link itu. Muncul tabel berisi deretan nama. Kucari ‘Alyoriek’ tidak ada. Aku kecewa.

.

.

Btw, lho, e, ini kok ada FMIPA? Welaaah itu pengumuman BEM KM Univ. Pff…

Lama kemudian, muncul link baru. Kali ini kupastikan benar itu BEM FIP bukan BEM Univ. Sekejap mata muncul tabel lagi, muncul deretan nama dan bidangnya, kucari-cari, scroll up… scroll up… DEG. Kembali ku mengingat QS Al-Insyirah ayat 8 yang artinya, “Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap,”. Memang sejak awal aku meneguhkan hatiku seperti itu. Sejak tangan ini menulis formulir, jempol ini menstarter motor, kaki ini melangkah masuk ruang wawancara, kuteguhkan dalam hati, “Yor, wa illa rabbika farghab” supaya apa? Supaya jikalau kamu berhasil kamu bersyukur dan tidak sombong serta jikalau kamu gagal kamu tak perlu merasa kecewa terlalu dalam. Karena apa? Karena sejak awal kamu sudah setuju, sudah menerima, apapun hasilnya, itulah rencana Allah, dan segala rencana dari Allah, adalah yang terbaik.

Alyoriek Rahmadania PGPAUD Staff Kominfo BEM FIP UNY 2018.

 

Processed with VSCO with hb2 preset

Alhamdulillah

Semoga aku bisa amanah, semoga misiku tercapai lewat staff kominfo ini ya teman-teman! Pengen kebiasaan ngeblog ini tuh, ada faedahnya gitu lho. H3h3